Oleh : Siti Nurdina
“Pulau pandan jauh di tengah, pulau Madura ujung Jawa. Ahai, jika berhenti detak jantungnya, di dasar laut liang kuburnya” Sepenggal syair lagu nelayan selat Madura itu terukir di plakat yang tertempel di salah satu dinding ruangan dalam museum Bahari.
Panas yang menyengat di bulan Juli tidak menyurutkan niat saya mengunjungi Museum Bahari, Jakarta Utara. Untuk menikmati suasana, saya pun menyewa sepeda dari stasiun kereta api Kota, yang tak jauh dari museum, untuk berkeliling. Setiba di depan Museum Bahari, sunyi melanda saya. Sejenak, saya membayangkan keriuhan yang dulu pastilah terjadi setiap hari di dalam bangunan tua ini. Dan kisah saya kali ini bermulai dari gerbang beton Museum Bahari.
Selanjutnya baca di sini